Teori Robert T. Kiyosaki dan Jebakannya untuk Muslim

Tidak asing dengan bagan dan nama ini, YA!

Dulu pernah amat sangat populer. Saya pun termasuk pembeli buku Rich Dad Poor Dad generasi awal. Bukunya asyik banget. Mengalir ringan, namun isinya powerful. Saya membaca sekaligus merasakan sensasi semangat yang amat kuat.

Namun, selesai membaca buku tersebut muncul kekhawatiran yang kuat: “bagaimana jika buku ini dibaca oleh mereka yang belum paham bisnis? Atau yang belum paham makna sukses yang hakiki?”

Duuh, nggak kebayang bakalan ada eksodus besar-besaran mereka yang selesai baca buku ini, lantas terlalu dini menyimpulkan

:1. Bisnis owner apalagi Investor itu paling keren (lebih keren dari kuadran kiri)

2. Bisnis itu gampang, bisa “memainkan” aset dengan pembiayaan bank dan zap…kita jadi business owner.

3. Sekolah, kerja itu nggak penting, dan lain-lain.

Dan bener aja. Beberapa bulan kemudian terlihat “demam Robert Kiyosaki” di mana-mana.

Setidaknya yang langsung interaksi dengan saya di Bandung, berbondong mahasiswa keluar dari kampusnya. Men-DO-kan dirinya sendiri. Banyak bahkan dari kampus sekeren I*B di Bandung yang keluar tidak lagi kuliah. Full menjadi praktisi “buku” Robert Kiyosaki. Pun yang karyawan, negeri maupun swasta (saat itu PNS masih kecil banget gaji nya). Mereka keluar dari tempat kerjanya.

Hasilnya apa?

Korban berjatuhan.

Iya sih, buku itu bagus. Makanya best seller internasional. Namun sebagai muslim kita tetap mesti gunakan kacamata Islam, Al Quran, dan as sunnah. Jika buku sumber rujukannya murni nilai manusia, maka sudah pasti dua sisinya sangat menonjol: ada baiknya dan ada “jebakan” salahnya (jika kita tak paham).

Itu yg terjadi dengan pembaca polos buku tersebut, di mana akhirnya gelombang masalah muncul: – status sudah non mahasiswa atau non karyawan, – terjebak hutang sebab ambil property dengan hutang bank, – ujungnya banyak yang nganggur, – bahkan jadi beban keluarga. Nggak semua sih, ada banyak juga yang baik-baik saja. Ada juga yang sukses. Siapa? Mereka yang:- tidak terburu napsu – memilah dengan nurani- meminta petunjuk dan pertolonganNya selalu- mau bertanya tidak asal telan- memahami hakikat & kaidah mendasarnya – dkk

Emang yang “salah” dengan isi buku itu apa saja?

Misal nih, bandingin mana yang lebih baik:- belum tentu jadi pengusaha atau investor lebih baik dari seorang employee atau spesialis (Kalau jadi pengusaha ngos-ngosan? Atau terlilit hutang? Kalau jadi investor tapi ‘boncos’ terus? Nggerus tabungan?). – belum tentu penghasilan pemilik bisnis atau investor lebih baik dari profesional – apalagi kalau pake penilaian Allah.

Bisa jauh lebih mulia seorang karyawan yang shalih daripada seorang pengusaha yang ngga bener- dll banyak banget.

So, next jika ada yang heboh-heboh, jangan langsung hap saja.. kunyah sebaik mungkin, tanya jika nggak paham.

Wallahu a’lam

One Reply to “Teori Robert T. Kiyosaki dan Jebakannya untuk Muslim”

Leave a Reply to A WordPress Commenter Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *